Thursday, June 13, 2019
Cerita Anak : Petrus
Pada zaman dahulu kala, dimana setiap hal yang hidup di bumi ini dapat berbicara dan menyampaikan isi hati mereka. Hiduplah sebuah pohon eucalyptus kecil di tepi jurang yang bernama Petrus. Dibawah jurang terdapat sebuah desa kecil yang aman dan tentram. Setiap hari Petrus memandangi betapa bahagianya kehidupan yang ada di desa tersebut. Sebaliknya, di desa hiduplah seorang anak bernama Patricia, dia anak yang berani dan suka membantu sesama. Saat Petrus memandangi desa tidak sengaja ia bertemu mata dengan Patricia. Patricia tersenyum dan melambaikan tangan ke Petrus. Petrus terkejut karena sudah sekian lama ada yang menyadari keberadaan dirinya. Petrus pun membalas senyuman Patricia. Diantara teman-teman Patricia, ada salah satu anak lelaki yang bernama Leo. Leo selalu dibanding-bandingkan dengan Patricia dikarenakan ibunya Leo dan Patricia adalah saudara kembar. Berbeda dengan Patricia yang rendah hati, Leo adalah anak yang congkak dan pendendam.
Suatu hari, Patricia mengajak teman-temannya bermain disekitaran tebing. Anak-anak sibuk bermain dengan bunga-bunga yang tumbuh di atas tebing sedangkan Patricia bermain dengan Petrus. “Hai namamu siapa?” tanya Patricia sambil tersenyum “Petrus kamu?” jawab Petrus “Aku Patricia, kok kamu gak besar seperti pohon lain?” “Aku masih kecil sama seperti kamu, mungkin nanti aku bisa lebih besar daripada pohon lainnya” “Iyakah? Kalau kamu sudah besar apa aku boleh bermain di dahanmu?” tanya Patricia sambil bersemangat “Tentu!” sorak Petrus. Patricia juga mengenalkan teman-temannya ke Petrus. Leo iri dengan persahabatan Patricia dan Petrus, ia berjanji dalam hati akan menghancurkan mereka berdua. Setelah kehadiran Patricia, kehidupan Petrus yang dulunya dilanda kesepian berubah menjadi kebahagiaan.
Seiring waktu berjalan mereka sama-sama tumbuh dewasa. Orang tua Patricia terkena penyakit dan harus meninggalkan Patricia di usia muda. Walaupun ditinggalkan oleh keluarga yang ia sayangi, Patricia tetap tegar menjalani hari-harinya. Petrus menjadi pohon yang amat besar, setiap musim panas tiba desa tidak akan kepanasan sebaliknya saat musim hujan mereka pun tak takut terkena longsor maupun banjir. Itu semua berkat keberadaan Petrus. Patricia tumbuh menjadi gadis cantik nan pemberani, dialah yang meneruskan peran kepala desa disana. Setiap masalah pasti selesai jika ada Patricia. Walau tumbuh dewasa, Patricia tetap bersahabat dengan Petrus. Setiap tidak ada pekerjaan di desa, Patricia selalu mengajak anak-anak desa ke atas tebing untuk bermain dengan Petrus.
Suatu ketika, desa mengalami gagal panen. Akibatnya, warga desa kekurangan bahan makanan, mereka semua hanya berpangku tangan pada Patricia selaku kepala desa. Patricia yang belum pernah mengalami masalah seperti ini tak tinggal diam. Patricia mengumpulkan seluruh hasil hutan di dekat desa, warga hutan pun turut membantu untuk memberikan bahan makanan. Leo dengan congkaknya menghasut warga desa dan menyalahkan Petrus atas gagal panen ini. Warga desa yang kehilangan akal mudah sekali untuk dihasut oleh Leo. Warga desa mulai menyalahkan Patricia karena berteman dengan pembawa bencana desa. “Cia, tebang saja pohonmu itu!” “Iya bawa sial, karena dia sinar matahari tidak sampai kedesa kita!” “Iya!! Air hujan maupun sinar matahari tak sampai sepenuhnya ke desa” melihat kerumunan marah, Leo tertawa terbahak-bahak. “Kalian salah paham, Petrus bukanlah pembawa bencana” jawab Patricia “Buktinya apa?! Kita saja sekarang sedang dilanda kelaparan dan kamu masih membela teman pohonmu itu?!” bentak Leo. “Lalu apa yang bisa kau buktikan jika tak ada Petrus kita tak akan kelaparan?!” tegas Patricia. Patricia yang tersulut emosi akibat omongan Leo. “Bukannya membela kaummu sendiri malah membela pohon, Dasar penghianat!!” sulut Leo “Pengkhianat!!!” sorak warga desa sambil melempar batu ke arah Patricia. Patricia melihat hal tersebut meninggalkan warga desa congkak itu dan tinggal di atas tebing dengan Petrus.
Petrus yang melihat hal tersebut menjadi sedih dan bingung harus berbuat apa. Patricia menangis ke Petrus. Pertama kalinya Patricia mengeluarkan emosinya dan ini membuat Petrus sangat merasa bersalah. Berhari-berhari, berbulan-bulan ia tinggal dengan Petrus di atas tebing walaupun begitu Patricia menyadari bahwa dia lebih bahagia dengan Petrus disini daripada dibawah sana. Warga desa yang kehabisan cara dan akal untuk mendapatkan makanan akhirnya menemui Patricia. Mereka memohon maaf untuk apa yang mereka lakukan dan berjanji tidak mengulangi hal tersebut. Patricia memaafkan tentang kelakuan warga desa kepadanya dahulu, Petrus juga menyarankan Patricia untuk kembali. Akhirnya Patricia kembali ke desa dengan berat hati tetapi ia berjanji untuk kembali terus ke tempat Petrus. Patricia mengira bahwa warga desa telah berubah dan menyadari kesalahan mereka. Ia tak menyadari itu hanyalah rencana yang dijalankan Leo untuk membuat Patricia menjadi lebih terpuruk dari sebelumnya. Leo menyuruh warga desa untuk bekerja sesuai dengan yang dikatakan Patricia dan menyusun rencana untuk menjebak Petrus sehingga ia ditebang. “Jika Petrus ditebang maka desa tidak akan lagi kesusahan” Hasut Leo.
Leo hanya menunggu hari ketika hujan saat malam hari. Tepat 1 minggu kemudian, hujan deras saat malam hari. Keesokkan harinya, dia menyuruh salah satu teman Patricia, Miya untuk bermain ke tempat Petrus bersama Patricia. Saat mereka sedang berbincang di tempat Petrus, dikarenakan hujan tanah di tebing menjadi sedikit lebih licin dari biasanya. Miya mencoba memperingati jangan terlalu dekat dengan Petrus karena banyak akarnya yang keluar jadi berbahaya tetapi, Miya yang dekat dengan tebing jurang. Tak melihat lagi jalan di tebing, Miya tak sengaja tersandung akar Petrus. Patricia yang melihat itu mencoba menangkap Miya. Untunglah berhasil tertangkap akibatnya Patricia sampai di bibir jurang. Patricia mulai takut untuk bergerak, “Tenang Cia, pelan-pelan tapi, pasti raih badanku jangan melihat kebawah jurang” tenang Petrus. Patricia menuruti ucapan Petrus tapi, apa daya tanah jurang sangat licin membuat Patricia tergelincir dan terjatuh ke jurang. “Tidak!” sorak Petrus dan Miya. Dengan ajaib akar Petrus menembus dinding jurang dan menangkap Patricia. Mendengar sorakan tersebut, buru-buru warga desa naik keatas tebing. Patricia terselamatkan tetapi warga desa tetap berusaha menyalahkan Petrus. “Sudah dibilang dia ini membawa sial!” “Tebang!!!” teriak Leo. Patricia menangis dan mencegah tapi, dia ditahan oleh warga desa. “Tidak! Bukan Petrus, Petrus tidak bersalah, Miya pun melihat” tangis dan bela Patricia. Miya hanya diam dan tak berkata apapun. Leo dan warga desa merobohkan Petrus “Tidak apa Patricia, aku mohon jangan bersedih. Aku akan kembali.” Senyum Petrus yang terakhir kali terngiang di ingatan Patricia. Mereka merobohkan pohon yang mereka anggap masalah.
Leo merasa menang dan berkuasa. Patricia ditinggalkan warga desa menangis di sisa batang Petrus. “Ya Tuhan, jika saja aku tidak pernah menuruti ajakan mereka dan jika saja dari awal aku tidak mencoba untuk mempercayai mereka lagi Petrus tidak akan mati” tangis Patricia. Seketika hujan turun sangat lebat. Petrus sudah tak ada lagi maka tak ada lagi yang menahan air hujan membasahi lembah mereka. Desa dilanda banjir akibat hujan, belum rasanya karma mereka terbalas terjadi longsor sehingga menimbun mereka semua. Patricia yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Rasa sedih dan kasihan Patricia timbul melihat hal tersebut terjadi. “Ini akibat ulah kalian sendiri, Petrus mencoba melindungi kalian. Bahkan bumi dan langit mengerti apa yang pantas kalian dapatkan.” Ucap Patricia. Patricia terus menjaga sisa batang Petrus. Suatu ketika, di tengah batang Petrus tumbuh tunas kecil. “Cia, aku sudah berjanji akan kembali” kata tunas kecil tersebut. Hal itu membuat Patricia menangis “Petrus! Petrus! Maafkan aku, kali ini aku akan menjagamu sampai seumur hidupku” tangis Patricia. Kedua sahabat itu menikmati hari-hari mereka bersama, bahagia selamanya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment