Thursday, June 13, 2019
JIKA TAKDIR BERKATA
“Kakek itu masih disitu ya?” kata Lani, seorang petugas stasiun, “Tentu, hanya itu yang dapat diingatnya mengisi hari-hari tuanya” saut Doni, temannya. Kisah kakek Bon sudah menjadi hal yang lumrah dibicarakan untuk menghibur para penumpang kereta. Kisah benang merah yang tak bersatu mungkin itu dapat menjadi judul dari cerita kakek Bon. Stasiun ini menjadi saksi bisu dari cerita cinta melegenda tersebut.“Memang ceritanya apa sih kak? Kok segitunya orang-orang selalu bicarain itu terus.” Saut penumpang yang sedang menunggu kedatangan kereta “Astaga naga.. terkejut aku, adek bukan orang asli sini?” tanya Lani, “Bukan kak aku asli Batununggal, Bandung” jawab penumpang itu “Pantas cantik, orang Bandung hehe boleh tau namanya siapa?” goda Doni “Mawar kak, kalo kakak-kakak namanya siapa?” “Saya Doni dan ini Lani,” “Astaga malah modus kamu Don, Dek Mawar kuliah atau kerja disini?” sela Lani “Kuliah kak, kalau boleh tau boleh ceritakan gak cerita kakek Bon?” “Boleh-boleh, mulai dari mana ya kalau diceritain bakal panjang ini” celetuk Doni “Kalau diingat, mulai dari...
50 tahun yang lalu, Indonesia baru saja beranjak naik ke tingkat yang lebih baik dari bidang perekonomian. Banyak yang harus menjadi kuli kasar untuk mengais rejeki dan hanya sedikit yang bisa mengambil pekerjaan pabrik ataupun kantor. Bon merupakan salah satu jarum diantara jerami yang mempunyai kesempatan mengenyam pendidikan sehingga hidupnya lumayan baik kala itu. Bon bekerja di sebuah perusahaan kecil di Bandung walaupun begitu, Bon itu asli orang Jakarta. Tidak membuang kesempatan menaikkan perekonomian keluarganya Bon bekerja keras dan pulang ke Jakarta setiap akhir pekan untuk berkumpul bersama keluarganya. Karena pekerjaannya, Stasiun Gambir ini adalah tempat yang menemani dia selama karirnya. Stasiun Gambir ini pula menjadi saksi bisu dia bertemu dengan takdir yang mempersatukan dan memisahkan dengan jantung hatinya.
Saat itu seperti biasa Bon, harus kembali ke Bandung untuk bekerja dan menjalani rutinitasnya. Peron kereta dipenuhi oleh lalu lalang pedagang dan penumpang yang juga menunggu kereta yang sama sepertinya. “Kereta Argo Parahyangan dengan tujuan destinasi Bandung telah memasuki stasiun, untuk para penumpang yang memiliki tiket dipersilahkan bersiap memasuki kereta. Kereta akan berangkat dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Bandung tepat pada pukul 08.00. Terima kasih telah menggunakan layanan kereta kami dan sampai jumpa di keberangkatan anda selanjutnya.” Setelah selesai pengumuman tersebut, pintu masuk kereta terbuka Bon pun mengangkat tas dan memasuki kereta keberangkatannya. Kali ini takdir berkata Bon sudah harus memikul tanggung jawab keluarga. Bon duduk disebelah wanita cantik, parasnya ayu menunjukkan usia yang mungkin setara dengan Bon ,kulit sawo matang, rambut hitam panjang terurai. Seketika cinta pada pandangan pertama menepuk hatinya Bon. Menyadari ada pandangan yang sedang melihatnya gadis itu mengalihkan mata dari jendela ke pemilik tatapan itu, tak lupa senyum terukir di wajahnya. Bon membalas senyuman gadis itu “Bandung juga neng?” tanya Bon “Iya bang” balas wanita itu “Panggil aja Bon, kalau boleh tau nama neng siapa?” “Tina bang” “Asli Bandung?” “Iya, kalo abang?” “Bukan, saya asli Jakarta”. Obrolan mereka berlanjut seperti waktu berhenti disekitar mereka, Bon berharap untuk mengenal lebih jauh dengan Tina. Saat sesampainya di Bandung karena berdesakkan keluar, Bon dan Tina terpisah. Bon berharap agar dapat dipertemukan kembali dengan Tina.
Saat kerja Bon tidak bisa fokus menyelesaikan tugas-tugasnya. Hanya Tina yang dipikirkannya, tak kehabisan akal Bon ingat bahwa Tina membuka toko jahit di Batununggal. Bon pun menanyakan kepada teman-teman kerjanya yang asli Bandung. Lalu ada salah satu temannya yang asli daerah sana juga, diajaknya Bon mengelilingi daerah Batununggal. Tapi, tak seperti drama picisan yang sering ia tonton untuk mencari satu orang di kota sebesar Bandung bukanlah hal yang mudah. Bon pun menyerah dan menghilangkan kenangan tentang Tina. Sampai pada akhirnya, takdir mempertemukan mereka kembali. Saat Bon ingin berangkat pulang ke daerah Jakarta, ia melihat sosok cantik di ujung peron membawa banyak kotak kardus yang sepertinya berisi alat jahit. Senangnya hati Bon, itu adalah sosok yang selama ini hanya ia dapat temukan didalam mimpi sekarang berdiri didepannya. Bon berlari menghampiri Tina tapi, tampaknya tak sesenang Bon raut wajah Tina terlihat lembam. Tina memaksa tetap tersenyum dengan Bon, bingung bercampur senang yang menghiasi hati Bon. Bon membantu membawa kotak-kotaknya masuk ke kereta, kali ini tidak ada perbincangan saat seperti mereka bertemu dahulu. Tina hanya melihat keluar jendela dan menerawang jauh. Bon pun memberanikan diri untuk bertanya apa yang membuat wajahnya seperti itu. Tina terdiam mendengar pertanyaan itu dan hanya menggelengkan kepala seperti bertanda tidak ada apa-apa. Bon pun tak sanggup berkata apa-apa lagi, sesekali ia melihat Tina mengusap air mata yang mengalir pada pipinya.
Hari itu yang ditunggu oleh Bon tapi, tidak sepenuhnya berjalan dengan sesuai harapan. Bon menawarkan dirinya untuk mengantar Tina setidaknya itulah yang dapat ia lakukan untuk mengulur waktu bersama dengan Tina. Tina merasa tidak enak tetapi, ia sadar bahwa tidak apa meminta bantuan sedikit kepada orang lain. Tina pun menerima pertolongan yang ditawarkan oleh Bon. Bon dan Tina sampai di sebuah rumah gubuk di Jakarta Barat. Bon pun segera pamit dan pulang ke keluarganya, Tina juga tidak menahan Bon untuk lebih lama. Setidaknya Bon telah tahu dimana Tina berada sekarang. Beberapa kali saat Bon pulang ke Jakarta, ia akan mampir ke rumah Tina dan mengajak Tina keluar . Bon tak pernah melihat satupun keluarga Tina. Ia berpikir mungkin keluarganya ada di Bandung semua karena ia asli Bandung. Seperti sepasang sejoli muda lainnya, mereka menikmati waktu bersama. Bon berjanji ia akan selalu ada bersama dengan Tina. Janji yang berat untuk dijalankan, seharusnya ia tak pernah menjanjikan hal yang melampaui takdir.
Suatu hari, Bon memutuskan untuk berhenti bekerja di Bandung dan mengajak Tina menikah. 1 minggu sebelum ia berhenti ia membuat surat rindu dan mengajak Tina untuk bertemu di peron stasiun. Tak lupa Tina membalas surat tersebut dengan menyetujui ajakan Bon. Surat berhentinya juga tlah dibuat dari jauh hari, ia berterimakasih kepada semua rekan dan atasannya. Senang hati ia membereskan semua barangnya dan bergegas menuju stasiun. Sesampainya di Stasiun Gambir, ia tak melihat dimanapun sosok yang ia cintai itu. Mungkin Tina terlambat pikir Bon. Sudah hampir 2 jam ia menunggu di stasiun tapi tak ada tanda kemunculan kekasihnya. Bon tak sabaran untuk menunggu lagi, disusulnya langsung ke rumah Tina. Selama perjalanan ia terus memandangi cincin emas yang ia bawa untuk melamar Tina. Pikirannya sudah mantap ia akan menggunakan tabungannya untuk membuka usaha kecil-kecilan bersama Tina. Sesampainya di rumah Tina, Bon sangat terkejut melihat rumah tersebut sudah terbuka dan kacau balau. Bon bertanya kepada tetangganya apa yang terjadi dengan Tina. Tetangganya menceritakan bahwa ada sekelompok pria menghancurkan semua barang-barang di rumahnya dan terus menyebut kata-kata hutang 3 hari yang lalu. Setelah kejadian itu Tina menghilang dan tidak pernah kembali ke rumah semua alat jahitnya masih tertinggal di rumah itu. Waktu pun berlalu Bon tak bertemu lagi dengan Tina sejak kejadian itu. Bisnis kecil-kecilan retail sembako yang ia bangun sukses dan mengangkat derajat keluarganya. Ayah dan Ibu Bon khawatir tentang usia Bon yang sudah menginjak kepala 3 tetapi, belum ada niatan untuk membangun keluarga. Entah sudah berapa kali, orang tuanya mencoba untuk mengenalkan calon istri yang baik tapi, tak ada satupun yang menarik hati Bon. Orang tuanya sudah berulang kali berkata untuk melupakan Tina, “Aku sudah berjanji dan tak mau kuingkari” jawab Bon. Keluarganya pun menyerah untuk membujuk Bon menikah.
5 tahun berlalu sejak kepergian Tina tetapi, tiada seharipun Bon tidak memikirkan keberadaan Tina. Tina seperti hanya mimpi indah sesaat bagi Bon yang tak bisa dijadikan kenyataan. Bisnisnya menjadi sangat maju dan mulai merambah keluar kota Jakarta, salah satu agennya berasal dari Kota Bandung. Suatu ketika, ia ingin bersilahturahmi dengan rekan-rekannya dan agen di Bandung. Berangkatlah Bon menggunakan kereta yang membawa kenangannya kembali pada saat itu. Sesampainya ia di peron kereta, ia melihat sosok tak asing membawa tas besar ditangannya, Tina. Air mata mengalir dari mata Bon mengisyaratkan seberapa besar kerinduannya kepada Tina. Tina mengalihkan pandangan ke orang yang berlari menujunya. Tina sadar bahwa itu Bon, ia langsung memeluk dan menangis ke pelukan Bon. “Maafkan aku, maaf” ucap Tina sampai sesenggukan “Sudah yang berlalu biarlah berlalu” hibur Bon. Tina pun menceritakan semua hal yang ia alami, dia hidup tinggal bersama ayahnya di Bandung tetapi, ayahnya mempunyai kebiasaan mabuk-mabukan dan berjudi. Tina adalah sasaran empuk setiap ayahnya kalah berjudi, ibunya meninggalkan Tina dan ayahnya saat dia masih berumur 5 tahun. Ia tak punya keluarga lain selain ayahnya jadi, ia pun bertahan dan menghidupi ayahnya. Sampai kejadian itu terjadi, ayahnya kembali dengan beberapa temannya. Karena kalah berjudi ayahnya bermaksud menjual diri Tina kepada teman-temannya. Dengan melawan sekuat tenaga Tina berhasil melarikan diri namun, tanpa alat jahitnya ia pun tak bisa apa-apa. Ia pun kembali ke rumah ayahnya dan mengambil alat-alat jahitnya. Ia tahu jika mengambilnya malam hari, ayahnya tak akan ada di rumah. Benar sekali ayahnya tak ada di rumah, ia melarikan diri dan tidur di peron kereta untuk berangkat ke Jakarta. Saat itulah ia kembali dipertemukan dengan Bon, mungkin takdir iri dengan kebahagiaan Tina. Tina kembali dipertemukan ke masalah yang berat, ayahnya meninggal dan rentenir berhasil menemukan Tina yang mana satu-satunya anak yang ayahnya miliki. Mereka memaksa Tina untuk melunasi hutang ayahnya, Tina kembali ke masa kelamnya di Bandung. Ia harus banting tulang selama 5 tahun untuk melunasi semua hutang tersebut. Ia benar-benar berharap bisa memulai kembali bersama Bon. Bon pun menangis mendengar hal tersebut. Bon mengajak Tina untuk tinggal di rumahnya sementara. Tina mengangguk tanpa berbicara sepatah kata. Mereka kembali bersama untuk kesekian kali berpisah, Bon membawa Tina bertemu dengan orang tuanya Bon. Mereka tidak dapat melarang Bon lagi membawa wanita yang tak jelas asal usulnya. Mereka hanya dapat mendukung apa yang dapat membuat Bon bahagia.
Pernikahan mereka benar-benar seperti di cerita-cerita dongeng. Walau mungkin bukan usia mereka lagi untuk menikmati pernikahan seolah anak muda. Bon dan Tina tak bisa berhenti tersenyum selama kehidupan bersama mereka. Kebahagiaan yang membuat iri siapapun. Sepertinya takdir berkata lain, Tina harus mengalami keguguran di kehamilan pertamanya. Dia benar-benar sedih dan terpuruk akibat hal itu, Bon tidak berhenti menyemangati Tina untuk bertahan. Suatu ketika, Bon pulang dari rumah rekan bisnisnya dan mendapati Tina tidak ada di rumah. Hanya sepucuk surat di atas meja
Mungkin takdir memang tak pernah berpihak padaku dari awal. Dari aku lahir, ibuku sendiri tega meninggalkanku. Walau begitu aku berjuang untuk hidup bersama ayahku. Tak sampai hati ayah pun berani menjual diriku pada bajingan-bajingan tengik itu. Aku kotor tapi, aku tak berani mengakui itu dan menuntut takdir atas kebahagiaanku denganmu. Maafkan aku Bon, aku berbohong padamu bahwa aku bekerja keras menjahit selama 5 tahun perpisahan kita. Aku menjual diri untuk hidup dan melunasi hutang ayahku, sampai akhirnya aku bisa keluar dari tempat gelap itu dan bertemu kembali denganmu. Maaf aku yang tak pernah jujur, aku akan menebus dosaku sendiri. Karena kebohonganku dan dosaku, anak kita yang menanggungnya. Aku akan menebus semua dosa ini sendiri, terima kasih atas janjimu untuk selalu bersamaku. Saat takdir berkata, aku akan kembali kepadamu.
Maafkan aku, Bon.
Sedih,kecewa dan panik bercampur aduk, sesegera mungkin ia menuju ke stasiun tempat ia bertemu. Hanya tempat itu yang terpikir olehnya untuk mencari Tina. Sesampainya ia di stasiun, ia langsung menuju peron dan terlihat Tina yang membawa tas dan kardus alat jahitnya mau memasuki kereta. “Tina!” teriak Bon, Tina menghiraukan teriakan Bon dan memasuki kereta. Tak terkejar lagi pintu kereta telah tertutup terlihat senyuman Tina dari jendela kereta, senyuman itu diiringan air mata yang jatuh dari pipi Tina. Itulah terakhir kali Bon melihat Tina. Bon terus mencari Tina, brosur kehilangan orang dan semua hal tlah dilakukan untuk mencarinya. Bon benar-benar terpuruk dan masuk rumah sakit. Dokter memvonis Bon terkena penyakit Alzheimer. Sedikit demi sedikit Bon sudah tak mengingat dirinya lagi tapi, setiap hari tak henti dari pagi hingga malam ia tetap ingat untuk datang ke Stasiun Gambir. Mungkin Bon berharap untuk sekali lagi dipertemukan dengan ujung benang merah takdirnya. Petugas yang bingung bertanya alasan Bon, Bon hanya menjawab “Aku sedang menunggu istriku”. Petugas mulai tahu alasan setelah mendengar cerita dari keluarganya. Kepala stasiun yang turut iba membiarkan Bon datang melihat stasiun setiap harinya.
Gitu dek ceritanya.” kata Doni menyelesaikan cerita tersebut. “Keren banget, Kakek Bon berarti sampai sekarang belum bertemu lagi dengan Tina itu kak?” tanya Mawar. “Ada yang bilang bahwa Tina sudah meninggal pada kecelakaan kereta tapi Kakek Bon tidak ingat dan ada yang bilang Tina masih hidup dan kembali ke tempat gelapnya lagi sampai sekarang, gak ada yang tau dek. Yang pasti penantian Kakek Bon itu menjadi contoh bahwa selalu ada orang yang tetap mencintai kita seburuk apapun kita” jawab Doni. Terdengar bunyi kereta memasuki stasiun, Mawar berpamitan dengan Doni dan Lani. Mawar memasuki pintu kereta dan melambaikan tangan, Kakek Bon melihat dan menangis “Tina kau kembali” dia mencoba berdiri dan berjalan menuju Mawar. Mawar tersenyum dan menunjuk ke arah tempat ia berdiri tadi. Ada sepucuk surat di tempatnya tadi, Lani mengambil dan membuka. Doni memegangi Kakek Bon yang menangis di samping mereka. Lani membacakan surat Mawar,Bon, sudah kubilang aku akan kembali dan Tuhan bilang kita akan bersatu disini, jadi jangan sedih lagi aku tunggu kamu disini tertulis dengan tinta hitam diatas kertas tersebut. Didalam surat tersebut, ada foto Tina dan anak kecil yang merupakan ibu dari Mawar. Bon mungkin lupa bahwa memang dari awal Tina mengandung anak keduanya saat berpisah, yang pasti Tina sudah bahagia dialamnya. Sebulan dari hal tersebut Doni dan Lani mendengar Kakek Bon berpulang ke akhirat. “Cinta sejati itu nyata ya don, Moga aja Kakek Bon dan Nenek Tina bersama lagi di sisi-Nya” kata Lani “Amin, mereka ngajarin kita bahwa hidup dan jodoh itu udah ada yang ngatur mau gimanapun kita ngaturnya kalau takdir berkata tetap aja manusia gak berkutik” jawab Doni. Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka.
Note : Alzheimer adalah penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap.
Cerita Anak : Petrus
Pada zaman dahulu kala, dimana setiap hal yang hidup di bumi ini dapat berbicara dan menyampaikan isi hati mereka. Hiduplah sebuah pohon eucalyptus kecil di tepi jurang yang bernama Petrus. Dibawah jurang terdapat sebuah desa kecil yang aman dan tentram. Setiap hari Petrus memandangi betapa bahagianya kehidupan yang ada di desa tersebut. Sebaliknya, di desa hiduplah seorang anak bernama Patricia, dia anak yang berani dan suka membantu sesama. Saat Petrus memandangi desa tidak sengaja ia bertemu mata dengan Patricia. Patricia tersenyum dan melambaikan tangan ke Petrus. Petrus terkejut karena sudah sekian lama ada yang menyadari keberadaan dirinya. Petrus pun membalas senyuman Patricia. Diantara teman-teman Patricia, ada salah satu anak lelaki yang bernama Leo. Leo selalu dibanding-bandingkan dengan Patricia dikarenakan ibunya Leo dan Patricia adalah saudara kembar. Berbeda dengan Patricia yang rendah hati, Leo adalah anak yang congkak dan pendendam.
Suatu hari, Patricia mengajak teman-temannya bermain disekitaran tebing. Anak-anak sibuk bermain dengan bunga-bunga yang tumbuh di atas tebing sedangkan Patricia bermain dengan Petrus. “Hai namamu siapa?” tanya Patricia sambil tersenyum “Petrus kamu?” jawab Petrus “Aku Patricia, kok kamu gak besar seperti pohon lain?” “Aku masih kecil sama seperti kamu, mungkin nanti aku bisa lebih besar daripada pohon lainnya” “Iyakah? Kalau kamu sudah besar apa aku boleh bermain di dahanmu?” tanya Patricia sambil bersemangat “Tentu!” sorak Petrus. Patricia juga mengenalkan teman-temannya ke Petrus. Leo iri dengan persahabatan Patricia dan Petrus, ia berjanji dalam hati akan menghancurkan mereka berdua. Setelah kehadiran Patricia, kehidupan Petrus yang dulunya dilanda kesepian berubah menjadi kebahagiaan.
Seiring waktu berjalan mereka sama-sama tumbuh dewasa. Orang tua Patricia terkena penyakit dan harus meninggalkan Patricia di usia muda. Walaupun ditinggalkan oleh keluarga yang ia sayangi, Patricia tetap tegar menjalani hari-harinya. Petrus menjadi pohon yang amat besar, setiap musim panas tiba desa tidak akan kepanasan sebaliknya saat musim hujan mereka pun tak takut terkena longsor maupun banjir. Itu semua berkat keberadaan Petrus. Patricia tumbuh menjadi gadis cantik nan pemberani, dialah yang meneruskan peran kepala desa disana. Setiap masalah pasti selesai jika ada Patricia. Walau tumbuh dewasa, Patricia tetap bersahabat dengan Petrus. Setiap tidak ada pekerjaan di desa, Patricia selalu mengajak anak-anak desa ke atas tebing untuk bermain dengan Petrus.
Suatu ketika, desa mengalami gagal panen. Akibatnya, warga desa kekurangan bahan makanan, mereka semua hanya berpangku tangan pada Patricia selaku kepala desa. Patricia yang belum pernah mengalami masalah seperti ini tak tinggal diam. Patricia mengumpulkan seluruh hasil hutan di dekat desa, warga hutan pun turut membantu untuk memberikan bahan makanan. Leo dengan congkaknya menghasut warga desa dan menyalahkan Petrus atas gagal panen ini. Warga desa yang kehilangan akal mudah sekali untuk dihasut oleh Leo. Warga desa mulai menyalahkan Patricia karena berteman dengan pembawa bencana desa. “Cia, tebang saja pohonmu itu!” “Iya bawa sial, karena dia sinar matahari tidak sampai kedesa kita!” “Iya!! Air hujan maupun sinar matahari tak sampai sepenuhnya ke desa” melihat kerumunan marah, Leo tertawa terbahak-bahak. “Kalian salah paham, Petrus bukanlah pembawa bencana” jawab Patricia “Buktinya apa?! Kita saja sekarang sedang dilanda kelaparan dan kamu masih membela teman pohonmu itu?!” bentak Leo. “Lalu apa yang bisa kau buktikan jika tak ada Petrus kita tak akan kelaparan?!” tegas Patricia. Patricia yang tersulut emosi akibat omongan Leo. “Bukannya membela kaummu sendiri malah membela pohon, Dasar penghianat!!” sulut Leo “Pengkhianat!!!” sorak warga desa sambil melempar batu ke arah Patricia. Patricia melihat hal tersebut meninggalkan warga desa congkak itu dan tinggal di atas tebing dengan Petrus.
Petrus yang melihat hal tersebut menjadi sedih dan bingung harus berbuat apa. Patricia menangis ke Petrus. Pertama kalinya Patricia mengeluarkan emosinya dan ini membuat Petrus sangat merasa bersalah. Berhari-berhari, berbulan-bulan ia tinggal dengan Petrus di atas tebing walaupun begitu Patricia menyadari bahwa dia lebih bahagia dengan Petrus disini daripada dibawah sana. Warga desa yang kehabisan cara dan akal untuk mendapatkan makanan akhirnya menemui Patricia. Mereka memohon maaf untuk apa yang mereka lakukan dan berjanji tidak mengulangi hal tersebut. Patricia memaafkan tentang kelakuan warga desa kepadanya dahulu, Petrus juga menyarankan Patricia untuk kembali. Akhirnya Patricia kembali ke desa dengan berat hati tetapi ia berjanji untuk kembali terus ke tempat Petrus. Patricia mengira bahwa warga desa telah berubah dan menyadari kesalahan mereka. Ia tak menyadari itu hanyalah rencana yang dijalankan Leo untuk membuat Patricia menjadi lebih terpuruk dari sebelumnya. Leo menyuruh warga desa untuk bekerja sesuai dengan yang dikatakan Patricia dan menyusun rencana untuk menjebak Petrus sehingga ia ditebang. “Jika Petrus ditebang maka desa tidak akan lagi kesusahan” Hasut Leo.
Leo hanya menunggu hari ketika hujan saat malam hari. Tepat 1 minggu kemudian, hujan deras saat malam hari. Keesokkan harinya, dia menyuruh salah satu teman Patricia, Miya untuk bermain ke tempat Petrus bersama Patricia. Saat mereka sedang berbincang di tempat Petrus, dikarenakan hujan tanah di tebing menjadi sedikit lebih licin dari biasanya. Miya mencoba memperingati jangan terlalu dekat dengan Petrus karena banyak akarnya yang keluar jadi berbahaya tetapi, Miya yang dekat dengan tebing jurang. Tak melihat lagi jalan di tebing, Miya tak sengaja tersandung akar Petrus. Patricia yang melihat itu mencoba menangkap Miya. Untunglah berhasil tertangkap akibatnya Patricia sampai di bibir jurang. Patricia mulai takut untuk bergerak, “Tenang Cia, pelan-pelan tapi, pasti raih badanku jangan melihat kebawah jurang” tenang Petrus. Patricia menuruti ucapan Petrus tapi, apa daya tanah jurang sangat licin membuat Patricia tergelincir dan terjatuh ke jurang. “Tidak!” sorak Petrus dan Miya. Dengan ajaib akar Petrus menembus dinding jurang dan menangkap Patricia. Mendengar sorakan tersebut, buru-buru warga desa naik keatas tebing. Patricia terselamatkan tetapi warga desa tetap berusaha menyalahkan Petrus. “Sudah dibilang dia ini membawa sial!” “Tebang!!!” teriak Leo. Patricia menangis dan mencegah tapi, dia ditahan oleh warga desa. “Tidak! Bukan Petrus, Petrus tidak bersalah, Miya pun melihat” tangis dan bela Patricia. Miya hanya diam dan tak berkata apapun. Leo dan warga desa merobohkan Petrus “Tidak apa Patricia, aku mohon jangan bersedih. Aku akan kembali.” Senyum Petrus yang terakhir kali terngiang di ingatan Patricia. Mereka merobohkan pohon yang mereka anggap masalah.
Leo merasa menang dan berkuasa. Patricia ditinggalkan warga desa menangis di sisa batang Petrus. “Ya Tuhan, jika saja aku tidak pernah menuruti ajakan mereka dan jika saja dari awal aku tidak mencoba untuk mempercayai mereka lagi Petrus tidak akan mati” tangis Patricia. Seketika hujan turun sangat lebat. Petrus sudah tak ada lagi maka tak ada lagi yang menahan air hujan membasahi lembah mereka. Desa dilanda banjir akibat hujan, belum rasanya karma mereka terbalas terjadi longsor sehingga menimbun mereka semua. Patricia yang melihat hal itu hanya bisa terdiam. Rasa sedih dan kasihan Patricia timbul melihat hal tersebut terjadi. “Ini akibat ulah kalian sendiri, Petrus mencoba melindungi kalian. Bahkan bumi dan langit mengerti apa yang pantas kalian dapatkan.” Ucap Patricia. Patricia terus menjaga sisa batang Petrus. Suatu ketika, di tengah batang Petrus tumbuh tunas kecil. “Cia, aku sudah berjanji akan kembali” kata tunas kecil tersebut. Hal itu membuat Patricia menangis “Petrus! Petrus! Maafkan aku, kali ini aku akan menjagamu sampai seumur hidupku” tangis Patricia. Kedua sahabat itu menikmati hari-hari mereka bersama, bahagia selamanya.
Subscribe to:
Comments (Atom)