Hai reader, kenalin nama aku jeslin umur aku saat menulis ini
adalah 19 tahun. Aku anak bungsu dari 2 bersaudara. Saat ini adalah semester
ke-3 kuliahku. Aku berkuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan bidang
perpajakan. Aku sangat menyukai pekerjaanku sekarang, pekerjaan ini sangat
membantu diriku untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Cukup perkenalan dariku,
akan kuceritakan pengalaman buruk dalam hidupku.
Masih ingat sekali dibenakku,
tanggal 20 juni aku melihat postingan dari teman lomba akuntansi saat aku lomba
LKS Akuntansi di Malang 2016. Tertulis disana beasiswa unggulan yang
diperuntukkan masyarakat berprestasi. Aku tertarik dengan postingannya "Ini
bisa menjadi bantuan untukku kuliah!!" pikirku. Hampir semua blog aku
jabani untuk mencari tahu tentang beasiswa unggulan. Aku sangat berharap dapat
lulus di beasiswa ini.
Masuk ke bulan juli semua yang diperlukan untuk babak penyisihan
sudah aku kirimkan. Tepatnya pada tanggal 10 Juli 2018 jam 11 siang aku submit
data yang telah aku lengkapi. Data diri yang seadanya, prestasiku tidak banyak
tapi aku merasa itu cukup membuat ku terkualifikasi. Lumayan sulit untuk
membuat proposal dan essay. Dengan sekuat tenaga, (eaaa) aku mencari
contoh-contoh essay dan proposal yang ada. Aku baru sadar saat sudah disubmit
Kartu Keluarga ku terpotong dan ada kata yang ketinggalan di proposal. Jadi,
aku berpikir ya sudahlah berarti memang bukan jodohku untuk dapat.
Seharusnya, dari awal saja aku dijatuhkan. Seolah-olah aku hanya
diberikan angan-angan lalu dihempaskan langsung ke tanah. Setelah 1 bulan aku
lihat di fanpage facebook, teman-teman seperjuangan beasiswa unggulan batch 2
2018 mulai banyak yang komentar bahwa pengumuman sudah keluar. Aku tau mungkin
tidak lulus, tapi kuberanikan untuk membuka gmail.

Tanggal 7 Agustus, aku
teriak kesenangan seperti orang gila. Memang benar kata orang tua, saat ada hal
senang jangan terlalu gembira dan saat sedih jangan terlalu terpuruk. Aku senang,
keluargaku tidak pernah satupun yang ke padang jadi ini pertama kalinya kami ke
padang. Semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk sesi wawancara aku siapkan. Orang
tuaku mengutus kakakku untuk menemaniku ke padang. Kami bukan keluarga yang
mampu, ayahku buta sebelah dan ibuku hanya buruh lepas. Sekarang inilah kami
mulai membaik dari usaha kecil-kecilan pancing. Tapi, apabila aku dapat
beasiswa ini aku ingin sekali membuat orang tuaku berhenti bekerja. Aku terpaut
jauh dengan kakakku, 15 tahun perbedaan kami. Aku berpikir aku sendirian saja
yang berangkat, untuk menghemat biaya. Tapi tetap saja kakakku disuruh ikut, ya
sudah lah pikirku.
Tepat pada tanggal 21 Agustus
2018, sore hari kami berangkat dari Jambi ke Padang. Kami menempuh kurang lebih
12 jam ke padang. Kami berangkat jam 7 malam dan sampai di Padang jam 5 an
subuh lalu sampai di guesthouse Arini jam 6. Perjalanan yang benar-benar
menyakitkan, kami berdua terus-terusan muntah. Apa yang kumakan langsung
kumuntahkan. Untung ada kakakku, dialah yang mengurus aku demam di mobil. Pada pertengahan
jalan, kakakku kasihan sekali padaku karena sudah benar-benar tidak kuat lagi. Dia
bertanya apa kita pulang saja, kata-kata itu lelucon bagiku. Kami berada di
tengah hutan bagaimana mau pulang, bisa sih kami pulang tapi berarti sia-sia
aku sudah sampai disini. Aku menolak dan berkata aku masih kuat. Aku minum air,
lalu muntah terus menerus mengulang sampai kami masuk ke daerah Padang. Aku
lega sekali tapi aku berpikir apa aku kuat seperti ini lagi saat pulang. Ya sudahlah
nanti yang nanti pikirku. Keesokan harinya, kami pergi ke LPMP untuk memastikan
tempat. Kami berjalan-jalan mengitari kota padang sesudahnya.
Sore hari, sepulang
jalan-jalan aku melanjutkan hapalan dan percobaan wawancaraku untuk persiapan
esok. Keesokan harinya aku datang 4 jam sebelum acara dimulai, aku lihat-lihat
gedungnya dan bertemu peserta lain. Ternyata, hanya 2 orang yang berasal dari
Jambi aku dan 1 orang mahasiswa dari Universitas Jambi. Aku mengisi daftar
absen dan menunggu verifikasi. Aku dapat meja pertama. Lumayan lama aku
menunggu verifikasi dan wawancara. Tiba selanjutnya aku dipanggil untuk
wawancara. Aku masuk ke ruangan, awalnya aku tidak mau duduk terlebih dahulu
sebelum pewawancaraku datang tetapi pewawancara meja kedua mempersilahkan aku
duduk. Dengan ragu-ragu aku duduk dan menunggu. Aku memakai dress batik yang
dibelikan ibuku khusus untuk hari ini. Aku memakai make up tipis untuk
menampilkan kesan rapi dan luwes kepada pewawancara.
Sesi wawancaraku
dilakukan oleh ibu-ibu sepertinya orang batak dari dialeknya. Dia sangat baik,
hanya bertanya sedikit pertanyaan tapi aku ingat dia mengatakan bahwa “Saya
sudah cukup bertanya, ada yang ingin kamu sampaikan?” Aku menjawab bahwa aku
sangat membutuhkan beasiswa ini, demi beasiswa ini aku menempuh perjalanan
jauh, cuti bekerja dan banyak mengeluarkan uang. Kupikir sesi wawancaraku
bagus, tapi temanku di meja 2 masih wawancara. Padahal aku masuk, temanku sudah
mulai dan saat aku keluar dia masih wawancara. Apa yang salah denganku ya? Mungkin
ada yang tidak benar saat aku menjawab pertanyaan ibu itu. Aku sudah berangan-angan
mungkin aku bisa dapat beasiswa ini. Untuk pulang dari padang kami naik
pesawat, takutnya aku kejang-kejang lagi saat naik bus. Aku mengeluarkan
tabungan untuk aku bayar kuliah. Aku benar-benar bodoh sekali rasanya kesal
sekali.
Tiba saat pengumuman,
statusku belum diterima. Jadi aku baca komentar di fanpage dan mengetahui ada
gelombang kedua untuk pengumuman. Aku menunggu sampai

pertengahan
Oktober 2018 keluarlah pengumuman yang sudah kuduga. Sekali tidak

lulus ya tidak lulus.
Aku sensor namanya, walau
kalian juga tahu namaku diawal cerita ini. Aku sedih benar-benar kecewa
seharusnya aku tidak lulus saja dari awal. Orang tuaku bilang anggap saja
pembelajaran mungkin masih banyak yang lebih tidak mampu dari aku yang
membutuhkan beasiswa ini, aku masih sehat sehingga masih bisa bekerja membiayai
kuliahku sendiri. Semoga sukses bagi teman-teman yang telah menerima beasiswa
ini, aku harap yang lulus tidak sombong dan yang tidak lulus jangan terpuruk
Tuhan tidak pernah menyulitkan siapapun Ia tahu apa yang paling baik kita
terima. Sadhu..